Cerita Seks dengan Tante Reni Tetangga Sebelah Rumah

Kisah ini adalah kisah nyata sewaktu aku berumur delapan belas tahun, murid kelas dua di sebuah SMA di sebuah kota Sumatera. Namaku Adit. Aku adalah anak tertua dari 4 bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Aku jarang bergaul dengan perempuan, aku canggung kalau berdekatan dengan cewek. Selain itu aku merasa rendah diri dengan penampilan diriku di hadapan cewek. Aku berperawakan tinggi kurus dan hitam, wajah juga bisa dikatakan berada di bawah rata-rata jauh dari kata cowok ganteng idaman wanita. Walau aku jelek dan hitam, otakku lumayan encer. Prestasi belajar ku di sekolah juga tidak pernah terlempar dari 5 besar di kelas.

Tante Reni Bugil Horny

Tante Reni Bugil Horny

Cerita Dewasa Terbaru, cerita ngentot setengah baya, koleksi cerita panas, Cerita ngeseks.

Tetapi hanya itulah yang bisa kubanggakan, tak ada yang lain. Tampang jelek tinggi kurus dan hitam ini sangat mengganggu, karena aku sebenarnya ingin sekali punya pacar yang cantik dan seksi, yang mau diremas-remas toketnya, dicipoki bibirnya dan dipeluk-peluk, bahkan kalau bisa lebih jauh lagi dari itu. Tapi masyarakat Kotaku itu adalah kota yang masih kolot, apalagi di lingkungan tempat aku tinggal. Pergaulan antara laki- laki dan perempuan yang sedikit mencolok menjadi sorotan tajam masyarakat. Dan akan menjadi bahan gosipan tetangga.
Aku adalah type cowok yang mempunyai nafsu besar sekali. Setiap pagi penisku keras seperti kayu sehingga harus dikocok sampai crot baru berkurang kerasnya. Dan kalau udah nge-crot bukan main banyaknya sperma yang keluar. Mungkin karena ukuran kontolku yang lebih panjang dari ukuran rata-rata. Setiap melihat perempuan cantik nafsu ku susah ditahan, aku langsung terangsang. Apalagi kalau kelihatan paha. Senjataku langsung tegang kalau melihat cewek berjalan berlenggak-lenggok dengan pinggul yang berayun ke kiri dan ke kanan, kontol-ku jadi ngaceng abis jadinya.
Tante Reni namanya.. tetanggaku yang tinggal di sebelah rumah. Suaminya mempunyai bisnis perkebunan kelapa sawit. Karena itu dia sering bepergian ke luar kota atau ke luar negri untuk mengurus bisnisnya. Belum lama mereka menjadi tetangga kami. Tante Reni berasal dari Bandung. Wajah cantik, kulit Putih mulus. Bodinya juga bagus, dengan pinggul berisi, paha semok, toket montok dan pinggang ramping. Tante Reni ini menjadi teman dekat ibuku mereka cocok satu sama lain. Kalau bergosip bisa berjam-jam, maklum saja dia belum punya anak dan hanya ibu rumah tangga saja.
Salah satu kebiasaan Tante Reni adalah dia suka duduk di sofa dengan menaikkan sebelah atau kedua kakinya di lengan sofa. Satu kali aku baru pulang dari latihan sepakbola, saat membuka pintu kudapati Tante Reni lagi ngobrol dengan ibuku. Rupanya dia tidak mengira aku akan masuk, dan cepat-cepat menurunkan sebelah kakinya dari sandaran lengan sofa, tapi aku sudah sempat melihat celah selangkangan kedua pahanya yang putih padat dan celana dalam merah yang membalut ketat memeknya. Aku menelan ludah, kontolku langsung berdiri. Aku langsung berjalan ke belakang tanpa ngomong apa-apa. Dan sejak itu pemandangan sekilas itu selalu menjadi obsesiku. Setiap melihat Tante Reni, aku ingat pemandangan paha dan memek tebal dibalut ketat celana dalamnya.
Tante Reni adalah type wanita penakut, dia takut sekali dengan setan, tapi anehnya suka nonton film genre horor di televisi. Terkadang dia nonton di rumah ku kalau suaminya sedang ke luar kota untuk urusan bisnis. Waktu mau pulang ke rumahnya dia takut, lalu ibuku menyuruh aku mengantarnya sampai ke pintu rumahnya. Dan inilah awal mula cerita sex ini terjadi.
Pada suatu hari tetangga sebelah kanan rumah Tante Reni meninggal. Perempuan tua yang meninggal ini pernah bertengkar dengan Tante Reni karena masalah sepele. Sampai meninggal pun mereka berdua masih saling bermusuhan. Tetangga itu sudah tiga hari dikubur tak jauh di belakang rumahnya, sewaktu suami Tante Reni, om Hendri berangkat ke Singapura untuk urusan bisnis sawit. Dia takut sekali karena sewaktu masih hidup tetangga itu mengatakan kepada banyak orang bahwa sampai di kuburpun dia tidak akan pernah berbaikan atau memaafkan Tante Reni.
Lanjutannya ketika aku pulang, ibu memanggilku. Katanya Tante Reni takut tidur sendirian di rumahnya karena suaminya lagi pergi. Karena itu dia menyuruhku tidur di ruang tamu di sofa Tante Reni. Mula-mula aku keberatan dan bertanya mengapa bukan salah satu dari adik-adikku saja. Kata ibuku adik-adikku yang masih kecil tidak akan membantu membuat Tante Reni tenteram, lagi pula adik-adikku itupun takut jangan-jangan didatangi arwah tetangga yang sudah mati itu. Lalu malamnya aku pergi ke rumah Tante Reni lewat pintu belakang. Tante Reni tampaknya gembira aku datang. Dia mengenakan daster tipis yang membalut ketat badannya yang sintal padat. Baca juga Cerita Ngentot Tante Mirna Pemilik Salon

Foto Tante Reni Sexy Hot

Foto Tante Reni Sexy Hot

“Mari makan malam Dit”, ajaknya membuka tudung makanan yang sudah terhidang di meja.
“Saya sudah makan, Tante,” kataku, tapi Tante Reni memaksa sehingga akupun makan juga.
“Adit, kamu kok pendiam sekali? Berlainan betul dengan adik-adik dan ibumu”, kata Tante Reni selagi dia menyendok nasi ke piring.
Aku sulit mencari jawaban karena sebenarnya aku tidak pendiam. Aku tak banyak bicara karena gugup saja.
“Tapi Tante suka orang pendiam”, sambungnya.
Kami makan tanpa banyak bicara, habis itu kami nonton televisi. Kulihat Tante Reni berlaku hati-hati agar jangan sampai secara tak sadar menaikkan kakinya ke sofa atau ke lengan sofa. Tante Reni mengajak aku ngobrol menanyakan sekolahku, kegiatanku sehari-hari dan apakah aku sudah punya pacar atau belum. Aku menjawab singkat-singkat saja. Kelihatannya dia memang ingin mengajak aku terus bercakap-cakap karena takut pergi tidur sendirian ke kamarnya. Namun karena melihat aku menguap, Tante Reni pergi ke kamar dan kembali dengan membawa bantal, selimut dan sarung untuk aku tidur.
Di rumah aku biasanya memang tidur hanya memakai sarung karena kontol-ku sering tidak maudiajak kompromi. Tertahan celana dalam saja bisa menyebabkan aku merasa tidak enak bahkan kesakitan. Tante Reni sudah masuk ke kamarnya dan aku baru menanggalkan baju sehingga hanya tinggal singlet dan meloloskan celana jeans dan celana dalamku menggantinya dengan sarung ketika hujan disertai angin kencang terdengar di luar. Aku membaringkan diri di sofa dan menutupi diri dengan selimut ketika suara angin dan hujan gemuruh guntur dan petir saling menyambung. Angin juga semakin kencang dan hujan makin deras.. tiba-tiba listrik mati sehingga semua gelap gulita. Kudengar suara Tante Reni memanggil.
“Aditttt …!!”
“Ya, Tante?”, aku menjawab panggilannya.
“Tolong temani Tante mencari senter”.
“Dimana Tante?”, aku mendekat meraba-raba dalam gelap ke arah dia.
“Barangkali di laci di dapur, Tante mau ke sana.”
Tante baru saja menghabiskan kalimatnya saat tanganku menyentuh tubuhnya yang empuk. Ternyata persis dadanya. Cepat kutarik tanganku.
“Saya kira kita tidak memerlukan senter Tante. Bukankah kita sudah mau tidur? Saya sudah mengantuk sekali.”
“Tante takut tidur dalam gelap Dit”.
“Gimana kalau saya temani Tante supaya tidak takut?”
Aku sendiri terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulutku, mungkin karena sudah mengantuk sangat. Tante Reni diam beberapa saat.
“Di kamar tidur Tante?”, tanyanya.
“Ya saya tidur di bawah”, kataku.
“di karpet di lantai.”
Seluruh lantai rumahnya memang ditutupi karpet tebal.
“Di tempat tidur Tante saja sekalian asal ,.. ” Aku terkesiap.
“Aaa.. , asal apa Tante?”
“Asal kamu jangan bilang sama teman-temanmu, Tante bisa dapat malu besar. Dan juga jangan sekali-kali bilang sama ibumu”.
“Ah buat apa itu saya bilang- bilang? Tidak akan, Tante”. Dalam hati aku melonjak-lonjak kegirangan.
Tak kusangka aku bakalan dapat durian runtuh, berkesempatan tidur di samping Tante Reni yang cantik banget. Siapa tahu aku nanti bisa nyenggol-nyenggol dia sedikit- sedikit. Meraba-raba seperti orang buta menjaga jangan sampai terantuk ke dinding aku kembali ke sofa mengambil selimut dan bantal, lalu kembali meraba- raba ke arah Tante Reni di pintu kamarnya. Cahaya kilat dari kisi-kisi di puncak jendela membantu aku menemukan keberadaannya dan dia membimbing aku masuk.

Baca Juga Koleksi Cerita sex Tante dan wanita setengah baya hot lainnya :
Cerita Sex Pemerkosaan Janda Jablay Binal
Cerita Sex Selingkuh Dengan Mertua Jablay
Cerita Ngentot Hadiah Ulang Tahun Dari Mama

Toket Montok Tante Reni

Toket Montok Tante Reni

Badan kami berantuk saat dia menuntun aku ke tempat tidurnya dalam gelap. Ingin sekali aku memeluk tubuh empuknya tetapi aku takut dia marah. Akhirnya kami berdua berbaring berjajar di tempat tidur. Selama proses itu kami sama menjaga agar tidak terlalu banyak bersentuhan badan. Perasaanku tak karuan. Baru kali inilah aku pernah tidur dengan perempuan bahkan dengan ibuku sendiripun tak pernah. Perempuan cantik dan seksi lagi.
“Kamu itu kurus tapi badanmu kok keras Dit?” bisiknya di sampingku dalam gelap.
Aku hanya diam saja tak menjawab.
“Seandainya tante tahu betapa kontol-ku lebih keras lagi sekarang ini,” kataku dalam hati.
Aku berbaring miring membelakangi dia. Lama kami berdiam diri. Kukira dia sudah tidur, yang jelas aku tak bisa tidur. Bahkan mataku yang tadinya berat mengantuk, sekarang terbuka lebar.
“Dit,” kudengar dia memecah keheningan.
“Kamu pernah bersetubuh?” Nafasku sesak dan mereguk ludah.
“Belum Tante, bahkan melihat celana dalam perempuan pun baru sekali.” Wah berani sekali aku.
“Celana dalam Tante?”
“Mmmmm”, hanya itu suara yang keluar dari mulutku.
“Kamu mau lepasin Dit?” , sambil dia menahan tawa.
Aku hampir-hampir tak percaya Tante Reni mengatakan itu.
“Lepasin celana dalam Tante?”, tanyaku dengan nada tak percaya.
“Iya. Tapi jangan bilang ke siapa-siapa.”
“Takutnya nanti Anu saya jadi tegang tante”, Jawabku.
“Nanti Tante lemesin deh kalau tegang”.
“Lemesin gimana tante?”, tanyaku asal.
“Ya lepasin dulu. Nanti Anu-mu itu bakal tahu sendiri.” Suaranya penuh tantangan.
Dan akupun berbalik, nafsuku menggelegak. Aku tahu inilah kesempatan emas untuk melampiaskan hasrat berahiku yang terpendam pada perempuan cantik-seksi selama bertahun-tahun usia remajaku.
Aku dengan tergesa melepas sarungku dan menyerbu untuk melepas celana dalam Tante Reni. Lalu dalam gelap kuraih kaitan BH dipunggungnya, dia membantuku. Kukucup mulutnya. Kuremas buah dadanya dan tak sabaran lagi kedua kakiku masuk ke celah kedua pahanya. Kukuakkan paha itu, kuselipkan paha kiriku di bawah paha kanannya dan dengan satu tikaman kepala kontolku menerjang tepat akurat ke celah labianya yang basah. Saya tancapkan terus. MASUK! Aku menyetubuhi Tante Reni begitu tergesa-gesa.

Cerita sex Ngentot tetangga

Cerita sex Ngentot tetangga

Sambil menusuk liang vaginanya kedua buah dadanya terus kuremas dan kuhisap dan bibirnya kupilin dan kulumat dengan mulutku. Mataku terbeliak saat penisku kumaju-mundurkan, kutarik sampai tinggal hanya kepala lalu kubenam lagi dalam mereguk nikmat sorgawi vaginanya. Kenikmatan yang baru pertama kalinya aku rasakan… ahhhhh.. ahhhhh ..
Tetapi malangnya aku, barangkali baru delapan kali aku menggenjot, itupun posisi kontol-ku baru masuk dua pertiga sewaktu dia muncrat dengan hebat. Spermaku muncrat tumpah ruah dalam lobang keperempuanannya. Dan akupun lemas. Badanku penuh keringat dan tenagaku rasanya terkuras saat kusadari bahwa aku sudah langsung KO.
Aku sadar aku terburu-buru sementara Tante Reni masih belum apa-apa. Dan tiba-tiba listrik menyala. Tanpa kami sadari rupanya hujan badai sudah reda. Dalam terang kulihat Tante Reni tersenyum disampingku. Aku malu. Rasanya seperti dia menertawakan aku. Laki-laki loyo. Main beberapa menit saja sudah langsung crot.
“Lain kali jangan terlampau tergesa-gesa dong sayang”, katanya masih tersenyum.
Lalu dia turun dari ranjang. Hanya dengan kimono yang tadinya tidak sempat kulepas dia pergi ke kamar mandi, tentunya hendak cebok membersihkan spermaku yang berlepotan di celah selangkangannya. Keluar dari kamar mandi kulihat dia ke dapur dan akupun gantian masuk ke kamar mandi membersihkan penis dan pangkal penisku berserta rambutnya yang juga berlepotan sperma. Habis itu aku kembali ke ranjang. Apakah akan ada babak berikutnya? Tanyaku dalam hati. Atau aku disuruh kembali ke sofa karena lampu sudah nyala? Tante Reni masuk ke kamar membawa cangkir dan sendok teh yang diberikan padaku.
“Apa ini Tante?”
“Telor mentah dan madu lebah pengganti yang sudah kamu keluarkan banyak tadi”, katanya tersenyum nakal dan kembali ke dapur.
Akupun tersenyum gembira. Rupanya akan ada babak berikutnya. Dua butir telur mentah itu beserta madu lebah campurannya kulahap dan lenyap kedalam perutku dalam waktu singkat. Dan sebentar kemudian Tante kembali membawa gelas berisi air putih. Dan kami duduk bersisian di pinggir ranjang.
“Enak sekali Tante”, bisikku dekat telinganya.
“Telor mentah dan madu lebah?”, tanyanya.
“Bukan. memek Tante enak sekali.”
“Mau lagi?” tanyanya menggoda.
“Iya Tante, mau sekali”, kataku tak sabar dengan melingkarkan tangan di bahunya.
“Tapi yang slow ya Dit? Jangan buru-buru seperti tadi.”
“Iya Tante, janji”. Dan kamipun melakukannya lagi.
Walau di kota kabupaten aku bukannya tidak pernah nonton filem bokep. Ada temanku yang punya kepingan VCD-nya. Dan aku tahu bagaimana foreplay dilakukan. Sekarang aku coba mempraktekkannya sendiri. Mula-mula kucumbu dada Tante Reni, lalu lehernya. Lalu turun ke pusar lalu kucium dan kujilat ketiaknya, lalu kukulum dan kugigit-gigit pentilnya, lalu jilatanku turun kembali ke bawah seraya tanganku meremas-remas kedua payudaranya. Lalu kujilat belahan vaginanya. Sampai disini Tante Reni mulai merintih. Kumainkan itilnya dengan ujung lidahku. Tante Reni mengangkat-angkat panggulnya menahan nikmat. Dan akupun juga sudah tidak tahan lagi. Penisku kembali tegang penuh dan keras seakan berteriak memaki aku dengan marah.

Foto Tante Binal Bugil

Foto Tante Binal Bugil

“Cepatlah kontol, jangan berleha-leha lagi”, teriaknya tak sabar.
Penis yang hanya memikirkan mau enaknya sendiri saja. Aku merayap di atas tubuh Tante Reni. Tangannya membantu menempatkan bonggol kepala penisku tepat di mulut lobang kemaluannya. Dan tanpa menunggu lagi aku menusukkan penisku dan membenamkannya sampai dua pertiga. Lalu kupompa dengan ganas.
“Diiiiiiiit”, rengeknya mereguk nikmat sambil merangkul leher dan punggungku dengan mesra.
Rangkulan Tante Reni membuat aku semakin bersemangat dan terangsang. Pompaanku sekarang lebih kuat dan rengekan Tante Reni juga semakin manja. Dan kupurukkan seluruh batangku sampai ujung kepada penisku menyentuh sesuatu di dasar rahim Tante. Sentuhan ini menyebabkan Tante menggeliat-geliat memutar panggulnya dengan ganas, meremas dan menghisap kontolku. Reaksi Tante ini menyebabkan aku kehilangan kendali. Aku bobol lagi. Spermaku muncrat tanpa dapat ditahan-tahan lagi. Dan kudengar Tante Reni merintih kecewa. Kali ini aku keburu knocked out selagi dia hampir saja mencapai orgasme.
“Maafkan Tante”, bisikku di telinganya.
“Tak apa-apa Dit,” katanya mencoba menenangkan aku.
Dihapusnya peluh yang meleleh di pelipisku.
“Dit, jangan bilang-bilang siapapun ya sayang? Tante takut sekali kalau ibumu tahu. Dia bakalan marah sekali anaknya Tante makan”.katanya tersenyum masih tersengal-sengal menahan berahi yang belum tuntas penuh.
Kontolku berdenyut lagi mendengar ucapan Tante itu, apa memang aku yang dia makan bukannya aku yang memakan dia? Dan aku teringat pada kekalahanku barusan. Ke- lelakian-ku tersinggung. Diam- diam aku bertekad untuk menaklukkannya pada kesempatan berikutnya sehingga tahu rasa, bukan dia yang memakan aku tetapi akulah yang memakan dia.
Aku terbangun pada kokokan ayam pertama. Memang kebiasaanku bangun pagi-pagi sekali. Karena aku perlu belajar. ,takku lebih terbuka mencerna rumus-rumus ilmu pasti dan fisika kalau pagi. Kupandang Tante Reni yang tergolek miring disampingku. Dia masih tidak ber-celana dalam dan tidak ber-BH. Sebelah kakinya menjulur dari belahan kimono di selangkangannya membentuk segitiga sehingga aku dapat melihat bagian dalam pahanya yang putih padat sampai ke pangkalnya. Ujung jembutnya juga kulihat mengintip dari pangkal pahanya itu dan aku juga bisa melihat sebelah buah dadanya yang tidak tertutup kimono.
Aku sudah hendak menerkam mau menikmatinya sekali lagi sewaktu aku merasa desakan mau buang air kecil. Karena itu pelan-pelan aku turun dari ranjang terus ke kamar mandi. Aku sedang membasuh muka dan kumur-kumur sewaktu Tante Reni mengetok pintu kamar mandi. Agak kecewa kubukakan pintu dan Tante Reni memberikan handuk bersih. Dia sodorkan juga gundar gigi baru dan odol.
“Ini Dit, mandi saja disini,” katanya.
Barangkali dia kira aku akan pulang ke rumahku untuk mandi? Goblok bener. Akupun cepat-cepat mandi. Keluar dari kamarmandi dengan sarung dan singlet dan handuk yang membalut tengkuk, kedua pundak dan lengan kulihat Tante Reni sudah di dapur menyiapkan sarapan.
“Ayo sarapan Dit. Tante juga mau mandi dulu,” katanya meninggalkan aku.
Kulihat di meja makan terhidang roti mentega dengan botol madu lebah Australia disampingnya dan semangkok besar cairan kental berbusa. Aku tahu apa itu. Teh telor. Segera saja kuhirup dan rasanya sungguh enak sekali di pagi yang dingin. Saya yakin paling kurang ada dua butir telor mentah yang dikocokkan Tante Reni dengan pengocok telur disana, lalu dibubuhi susu kental manis cap nona dan bubuk coklat. Lalu cairan teh pekat yang sudah diseduh untuk kemudian dituang dengan air panas sembari terus dikacau dengan sendok. Lezat sekali. Dan dua roti mentega berlapis juga segera lenyap ke perutku. Kumakan habis selagi berdiri. Madu lebahnya kusendok lebih banyak. Tante tidak lama mandinya dan aku sudah menunggu tak sabar. Dengan hanya berbalut handuk Tante keluar dari kamar mandi.
“Tante, ini teh telornya masih ada”, kataku.
“Kok tidak kamu habiskan Dit?” tanyanya.
“Tante kan juga memerlukannya” , kataku tersenyum lebar.
Dia menerima gelas besar itu sambil tersenyum mengerling lalu menghirupnya.
“Saya kan dapat lagi ya Tante”, tanyaku menggoda.
Dia menghirup lagi dari gelas besar itu.
“Tapi jangan buru-buru lagi ya?” katanya tersenyum dikulum.
Dia menghirup lagi sebelum gelas besar itu dia kembalikan padaku. Dan aku mereguk sisanya sampai habis. Penuh hasrat aku mengangkat dan memondong Tante Reni ke kamar tidur.
“Duh, kamu kuat sekali Dit”, pujinya melekapkan wajah di dadaku.
Kubaringkan dia di ranjang, handuk yang membalut tubuh telanjang-nya segera kulepas. Duhhh cantik sekali. Segalanya indah. Wajah, toket, perut, panggul, memek, paha dan kakinya. Semuanya putih mulus mirip artis filem Jepang. Semula aku ragu bagaimana memulainya. Apa yang mesti kuserang dulu, karena semuanya menggiurkan. Tapi dia mengambil inisiatif. Dilingkarkannya tangannya ke leherku dan dia dekatkan mulutnya ke mulutku, dan akupun melumat bibir seksinya itu. Dia julurkan lidahnya yang aku hisap-hisap dan perasan airludahnya yang lezat kureguk.
Lalu kuciumi seluruh wajah dan lehernya. Lalu kuulangi lagi apa yang aku lakukan padanya tadi malam. Meremas-remas payu daranya, menciumi leher, belakang telinga dan ketiaknya, menghisap dan menggigit sayang pentil susunya. Sementara itu tangan Tante juga liar merangkul punggung, mengusap tengkuk, dan meremas-remas rambutku. Lalu sesudah puas menjilat buah dada dan mengulum pentilnya, ciumanku turun ke pusar dan terus ke bawah. Seperti kemarin aku kembali menciumi jembut di vaginanya yang tebal seperti martabak Bangka, menjilat klitoris, labia dan tak lupa bagian dalam kedua pahanya yang putih. Lalu aku mengambil posisi seperti tadi malam untuk menungganginya. Tante menyambut penisku di liang vaginanya dengan gairah. Karena Tante Reni sudah naik birahi penuh, setiap tusukan penisku menggesek dinding liangnya tidak hanya dinikmati olehku tetapi dinikmati penuh oleh dia juga. Setiap kali sambil menahan nikmat dia berbisik di telingaku.

Cerita dewasa 17 tahun bikin terangsang:
Cerita Ngentot Temen Cewek di Toilet Kampus
Ngentot Vivi Adik Pacarku

Foto memek tante reni

Foto memek tante reni

“Jangan buru-buru ya sayang, ,O.. jangan buru-buru ya sayang.”
Dan aku memang berusaha mengendalikan diri menghemat tenaga. Dari pengalaman tadi malam kujaga agar penisku yang memang berukuran lebih panjang dari orang kebanyakan itu jangan sampai terbenam seluruhnya karena akan memancing reaksi liar tak terkendali dari Tante Reni. Aku bisa bobol lagi. Aku menjaga hanya masuk dua pertiga atau tiga perempat. Dan kurasakan Tante Reni juga berusaha mengendalikan diri. Dia hanya menggerakkan panggulnya sekadarnya menyambut kocokan batangku. Kerjasama Tante membantu aku. Selama lima menit berikutnya aku semakin meningkatkan tekanan. Sementara merangkul dan menjepitkan paha dan kakinya ke panggulku Tante Reni berbisik mesra
“jangan buru-buru ya sayang ,. jangan tergesa-gesa ya Dit?”. Akupun segera mengendorkan serangan, menahan diri.
Dan lima menit lagi berlalu. Lalu aku kembali mengambil inisiatif menjajaki mencari titik lemah pertahanan Tante Reni. Aku gembira karena aku menguasai permainan dan lima menit lagi berlalu. Tante Reni semakin tersengal-sengal, rangkulannya di punggung dan kepalaku semakin erat. Dan aku tidak lagi melakukan penjajakan. Aku sudah tahu titik kelemahan pertahanannya. Sebab itu aku masuk ke tahap serangan yang lebih hebat. Kontol-ku sudah lebih sering masuk tiga perempat menyentuh dasar liang kenikmatan Tante Reni. Setiap tersentuh Tante Reni menggelinjang. Dia pererat rangkulannya dan dengan nafas tersengal dia kejar mulutku dengan mulutnya dan mulut dan lidah kamipun kembali berlumatan dan kerkucupan.
“Dit”, bisiknya.
“Punyamu panjang sekali.”
“Memek Tante tebal dan enak sekali”, kataku balas memuji dia.
Dan pertempuran sengit dan panas itu berlanjut lima lalu sepuluh menit lagi. Lalu geliat Tante Reni semakin menggila dan ini menyebabkan aku semakin gila pula memompa. Aku tidak lagi menahan diri. Aku melepaskan kendali nafsu birahiku selepas-lepasnya. Kutusuk dan kuhunjamkan kepala kontol-ku sampai ke pangkalnya berkali-kali dan berulang-ulang ke dasar rahimnya sampai akhirnya Tante Reni tidak sadar menjerit
“oooooohhhhhh,” . Aku terkejut, cepat kututup mulutnya dengan tanganku, takut kedengaran orang, apalagi kalau kedengaran oleh ibuku di sebelah.
Sekalipun demikian pompaanku yang dahsyat tidak berhenti. Dan saat itulah kurasakan tubuh Tante Reni berkelojotan sementara mulutnya mengeluarkan suara lolongan yang tertahan oleh tanganku. Dia orgasme hebat sekali.
“Sudah Dit, Tante sudah tidak kuat lagi”, katanya dengan nafas panjang-singkatan setelah mulutnya kulepas dari bekapanku.
Kulihat ada keringat di hidung, di kening dan pelipisnya. Wajah itu juga kelihatan letih sekali. Aku memperlambat lalu menghentikan kocokanku. Tapi senjataku masih tertanam mantap di memek tebalnya.
“Enak Tante?”, bisikku.
“Iya enak sekali Dit. Kamu jantan. Sudah ya? Tante capek sekali”, katanya membujuk supaya aku melepaskannya.
Tapi mana aku mau? Aku belum keluar, sementara batang kelelakianku yang masih keras perkasa yang masih tertancap dalam di liang kenikmatannya sudah tidak sabaran hendak melanjutkan pertempuran.
“Sebentar lagi ya Tante,” kataku meminta , dan dia mengangguk mengerti.
Lalu aku melanjutkan melampiaskan kocokanku yang tadi tertunda. Kusenggamai dia lagi sejadi- jadinya dan berahinya naik kembali, kedua tangannya kembali merangkul dan memiting aku, mulutnya kembali menerkam mulutku. Lalu sepuluh menit kemudian aku tak dapat lagi mencegah air mani-ku menyemprot berkali-kali dengan hebatnya, sementara dia kembali berteriak tertahan dalam lumatan mulut dan lidahku. Liang vaginanya berdenyut-denyut menghisap dan memerah sperma-ku dengan hebatnya seperti tadi. Kakinya melingkar memiting panggul dan pahaku.

foto memek basah tante reni

foto memek basah tante reni

Persetubuhan nikmat diantara kami ternyata berulang dan berulang dan berulang dan berulang lagi setiap ada kesempatan atau tepatnya peluang yang dimanfaatkan. Suami Tante Reni, om Hendri punya hobby main catur dengan Bapakku. Kalau sudah main catur bisa berjam-jam. Kesempatan itulah yang kami gunakan. Paling mudah kalau mereka main catur di rumahku. Aku datangi terus Tante Reni yang biasanya menolak tapi akhirnya mau juga. Aku juga nekad mencoba kalau mereka main catur di rumah Tante Reni. Dan biasanya dapat juga walau Tante Reni lebih keras menolaknya mula-mula.
Tiga bulan kemudian sesudah peristiwa pertama di kala hujan dan badai itu aku ketakutan sendiri. Tante Reni yang lama tak kunjung hamil, ternyata hamil. Aku khawatir kalau-kalau bayinya nanti hitam. Kalau hitam tentu bisa gempar. Karena Tante Reni itu putih. om Hendri juga kuning kulitnya. Lalu kok bayi mereka bisa hitam? . -T A M A T-

Cerita seks dengan tetangga, ngentot tetangga, selingkuh, cerita sex tante, cerita ngentot selingkuh tante montok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!