Cerita Sex Selingkuh Dengan Mertua Jablay

Ayah mertuaku berusia sekitar 59 tahun barusan pensiun bekerja dari salah satu perusahaan di daerah Bekasi. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari anggota terntara AD sewaktu usia 54 tahun, tapi karena masih sanggup dan kuat maka beliau terus ingin bekerja, beliau memilih untuk kembali ke kampungnya didaerah Batu, Jawa Timur selain untuk menikmati masa tuanya, beliau juga ingin mengurusi kebuan apel di sana.

Mertua Jablay

Mertua Jablay

Ibu mertuaku walau sudah berusia sekitar 46 tahun, tapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk seperti ibu-ibu yang sudah berumur pada umumnya, walau tidak cantik tapi dia berwajah manis dan tidak membosankan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku yang seperti itu mungkin karena selama tinggal di Bekasi kehidupan keluarga mertuakau bisa dibilang lebih dari cukup sehingga ada dana bagi ibu mertua untuk memanjakan wajah dan tubuhnya di salon.

Tiga bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjungi keluarga mertua bersama Istriku dan anakku yang masih balita. Kedatangan kami disambut gembira oleh kedua mertuaku, apalagi sudah lebih dari satu tahun tidak bertemu. Pertama, aku di peluk oleh Ayah mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibu mertua dan setelah itu gentian istriku mendatangi ayahnya memeluk dan menciumnya dan aku mendapat giliran mendekap Ibu mertua .. dia mendekapku erat sampai terasa toketnya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa kontolku menjadi tegang berdiri dibuatnya.

Dalam pelukannya, Ibu mertua ku sempat berbisik ,
“Ibu kangen sekali denganmu”,
Sambil menggosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga,
“Buuu…,Saya juga kangen sekali dengan Ibu”,
dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata,
“Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu”,
karena kaget, aku menjadi terdiam lalu melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku hanya tersenyum.

Setelah tiga hari menginap, aku dan istriku merasa ada yang aneh keaneh dalam rumah tangga mertuaku, Ibu mertuaku sering marah-marah kepada suaminya apabila ada sesuatu yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku lebih sering diam dan tidak meladeni kemarahan istrinya dia lebih senang menghabiskan waktu mengurusi kebun Apelnya.

Istriku tidak bisa berbuat apa-apa dengan perilaku orang tuanya terutama dengan ibu, yang sudah sangat jauh berbeda dibandingkan waktu mereka masih tinggal di Bekasi, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja. Karena istriku takut untuk bertanya langsung kepada kedua orang tuanya, maka Istriku memintaku untuk mencoba mendapatkan jawaban dari ibunya dan supaya ibunya mau cerita tentang masalah ini, maka istriku memintaku untuk menginterogasi ibunya sewaktu dia dan Ayah mertua tidak sedang berada di rumah.

Pada pagi hari setelah selesai sarapan, istriku pamitan untuk pergi mengunjungi Bude nya di Kediri bersama anakku, yang tidak terlalu jauh dari Batu dan diusahakan akan pulang pada waktu sore hari.

“Lho…, kok Suami mu tidak diajak..?”, tanya ibunya.
“Nggak usahlah Buuu…, biar Mas nemenin Ayah dan Ibu di rumah saja, lagipula hanya sebentar saja ini”, sahut istriku sambil mengedipkan mata ke aku.
Aku pun tahu apa maksud dari kedipan itu.

Foto Bugil Mertua

Foto Bugil Mertua

Tidak lama setelah istriku pergi, Ayah mertuaku juga berpamitan untuk pergi ke kebun apel yang tidak terlalu jauh dari rumah sambil berpesan,
“Nak…, kalau nanti mau melihat-lihat kebun apel, langsung susul Ayah saja ke sana”. Kata Ayah mertuaku.
Yang berada di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertua yang lagi sibuk membersihkan meja makan. Sambil menunggu waktu yang pas untuk menjalankan mandat yang diminta oleh istriku, aku menonton tv di ruang tamu.

Entah berapa lama aku menonton TV, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu jatuh yang keras kemudian disusul suara mengaduh dari belakang, dengan segera aku berlari menuju belakang sambil berteriak,
“Buuu…, ada apa buuu?”.
Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih,
“Nak…, tolooong Ibuuu”,
Dan ketika kulihat ternyata ibu mertuaku sudah terduduk di lantai sambil kesakitan dan mengaduh mengurut pangkal pahanya. Dengan segera aku angkat ibu mertua ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar lalu kutidurkan sambil kutanya,
“Bagian mana yang sakit Buuu”, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit,
“Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya”.

Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya,
“Buuu…, apa ada bagian lain yang sakit..?

“Nggak ada kok …, hanya di sepanjang paha kiri ini agak sedikit sakit”, jawabnya.
“Ooh…, iya Nak…, tolong ambilkan minyak kayu putih di lemari”.

Aku segera mencari minyak yang dimaksud di dalam lemari dan alangkah kagetnya ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keraguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata,
“Sini Nak…, nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih it, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan”.

Dengan perasaan penuh keraguan, kupijat pelan paha kirinya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang mungkin waktu jatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya lalu kutanya,
“Bagaimana Buuu…, apa bagian ini yang sakit..?

“Betul Nak…, iyaa yang ituuu…, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah”,
Dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kupijat pahanya yang sakit itu, dengan mata terpejam, ibu mertuaku berkata kembali,
“Nak…, tolong agak ke atas sedikit mijit”, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna putih krem dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar, apalagi memek ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar celana dalam-nya dan ada beberapa helai bulu memeknya yang keluar dari samping celana dalam-nya.

“Kok mijatnya berhenti”, Tanya ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
“Iiiii…yaa…, Buuu maaf, tapi…, Buuu”, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
“kenapa Nak ?, tanya ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku.
“Mmmm… Buuu…, Saa…, yaa…, saayaa”, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti kontolku menjadi semakin tegang karena melihat bagian celana dalam ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

“Nak .. ??”, katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas memeknya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke memeknya diikuti dengan desahan suara ibu mertuaku,
“Ssshh…, Ssshh”. Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.

cerita sex mertua

cerita sex mertua

“Buuu…, Saa…yaa”, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar,
“Nak…, koook seperti anak kecil saja.., sih?”.
“Buu…, Saya…, takut kalau nanti Ayah datang”, sahutku gemetar karena memang saat itu aku benar-benar takut, tetapi tangan ibu mertuaku masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke memeknya serta berkata pelan,
“Nak…, Ayah pulang untuk makan siang selalu jam setengah 12 siang nanti…, tolonglah Ibuuu…, naak”,terdengar dia seperti mengiba.

Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca ceritadewasa17.xyz juga tidak bisa menahan diri jika berada dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kali aku alami apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya rasa takut pasti akan ada.

“Ayooo…lah Nak…, tolongin Ibuuu…, Naak”, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
“Buuu…, biar saya kunci pintunya dulu, yaa?”, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab,
“Nggak usah naak…, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu”, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku sudah mulai hilang tertutup oleh nafsu.
“Boleh saya buka…, rok Ibu..? tanyaku meminta ijin.
“Boleh…,kamu boleh lakukan apa saja..Nak”, katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendekku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan mencuatlah toketnya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah toketnya lalu kutanyakan,
“Buuu…, boleh saya pegang dan ciumi tetek…, Ibuu..?
“Bool…, eh…, boleh…, sayang.., lakukan apa saja yang Nak kamu mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari Ayahmu…, ayoo.., sayaang”, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua toket ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, “ssshh…, aahh.., sayaang…, ooohh…, teruuus…, yaang…, tolong puasiiin Ibuu…, Naak”, dan suara ibu mertuaku yang terdengar mengiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri.

“Naak….”, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, “Ibuu…, ingin melihat kontol-mu…, Naak”, seraya tangannya berusaha memegang kontolku yang masih tertutup celana pendekku.

“Iyaa…, Buu…, saya buka celana dulu Buuu”, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada toketnya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang kontolku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, “Nak…, besar sekali…, dan keras lagi, ayooo…, dong cepat.., dibuka celananya…, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas”, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh untuk kedua kalin, langsung kulepas celana pendek yang kukenakan.

Mertua telanjang

Mertua telanjang

Ketika membuka celana dalam-ku serta melihat kontolku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil,
“Aduuuh…, besaar sekali”, padahal menurut anggapanku ukuran kontolku sepertinya wajar saja tapi mungkin saja lebih besar dari punya ayah mertuaku dan ibu mertuaku langsung saja memegang serta mengocoknya pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, “Ssshh…, aahh”, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.

“Aduh…, Buu…, sakit”, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik kontolku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati kontolku. Setelah mulutnya dekat dengan kontolku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala kontolku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada toketnya yang tergantung ke samping.

Setelah beberapa kali kepala kontolku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah kontolku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang kontolku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan kontolku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang kontolku masuk ke dalam mulutnya.

Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala kontolku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga kontolku terasa sangat nikmat. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis,
“ssshh…, aacccchhh…, ooohh”, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu.
Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah kenikmatan dari sepongan ibu bagiku.

Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan kontolku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik,
“Naak…, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati”, dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan,
“Buuu…, apa boleh…, saya lakukan?”, dan segera saja ibu menjawabnya,
“Nak…, tolong pegang dan jilati vagina ibu…, naak…, ibu sudah lama kepingin di gituin”.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati toket ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi toket ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan celana dalam-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas celana dalam-nya dan kulemparkan ke atas lantai.

Mertua Binal Mesum

Mertua Binal Mesum

Kulihat memek ibu mertuaku sangat lebat ditumbuhi jembut hitam mengitari liang memeknya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat memeknya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku,
“Nak…, tolooong…, cepaat…, saa.., yaang…, ayooo…, Naakkk”.

Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu memeknya yang lebat itu untuk melihat belahan memek ibu dan setelah bibir memek ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata memek ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam memeknya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata,
“Cepaat…, Nakkk…, ibu sudah nggak tahaan”.

Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam memeknya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara,
“ssshh…, aahh…, Nakkk…, teruuus…, adduuuhh…, enaak…, Sayanggg”, Lalu kukecup klitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, “Aahh…, ooohh…, Nakkk…, betuuul…, yang itu…, Sayanggg…, enaak…, aduuuh…, Sayanggg…, teruskaan…, aahh”, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke memeknya. Kecupan demi kecupan di memek ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang,
“Aahh…, oooh…, duuuhh…, ibuu…, mau.., mauuu…, sampaiii…, Naak…, oooh”, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.

Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di memek ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata,
“Kesiniii…, saayaang”, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu,
“Sayang…, Ibu puas dengan apa yang kamu…, lakukan tadi, terima kasiih…, Naak”. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya,
“Buuu…, saya sayang Ibuuu…, saya ingin ibu menjadi…, puu..aas”.

Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata,
“Naak…, Ibu masih pingin lagi…, Sayangg…, tolooong puasin ibu sampai benar-benar puaas…, Naak”, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya.
Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali,
“Sayaang…, ayooo…, tolooong Ibu dipuasin lagi, tolong masukkan kontolmu yang besar itu ke vagina ibu”.

“Buuu…, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini…, apalagi kepada Ibuu”,sahutku di dekat telinganya.
“Nggak apa-apa…, Naak…, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak…, lakukan sampai Ibu benar-benar puas”, katanya dengan suara setengah mengiba.

“Aahh…, biarlah, kenapa kutolak”, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang kontolku serta kuusap-usapkan di belahan bibir memek ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan,
“Buuu…, maaf yaa…., saya mau masukkan sekarang, boleh?”.

Foto Mertua Lagi Bugil

Foto Mertua Lagi Bugil

“Ceeepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak”, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan kontolku ke dalam memeknya, mungkin entah tusukan kontolku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil,
“Aduuuh…,Naakkk…, pelan-pelan saayaang…, memek ibu agak sakit niiih”, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan.
Kuhentikan tusukan kontolku di memeknya,
“Maaf Buu…, saya sudah menyakiti Ibu…, maaf ya Bu”. Ibu mertuaku kembali menciumku, “Tidak apa-apa…, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Sayanggg..”, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

“Buuu…, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa…, kalau ibu merasa sakit”, sahutku.
Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali kontolku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala kontolku sudah menancap di lubang memeknya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan,
“Buuu…, sakit.., yaa?”. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab,
“Sayangg…, masukkan saja sayaang”, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan kontolku di lubang memeknya dan sedikit terasa kepala kontolku sudah bisa membuka lubang memeknya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan kontolku dan,
“Bleess”, kontolku mulai membongkar masuk ke liang memeknya diikuti dengan teriakan kecil, “Aduuuh…, Suuur”, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan kontolku masuk ke dalam memeknya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.

“Buuu…, sakit yaa..? maaf ya Buuu”. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.
“Enggak kok sayaang…, ibu hanya kaget sedikit saja”, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, “Sayaanngg…, besar sekali kontolmu ini”.

Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga kontolku yang terjepit di dalam memeknya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah,
“SSsshh…, oooh…, aahh…, sayaang…, nikmat…, teruuuskan…, Naak”, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya memeknya ibu dan kusahut desahannya,
“Buuu…, aahh…, punyaa Ibu juga nikmat, buuu”, sambil kuciumi pipinya. Perkosaan ibu kost berhijab

Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah,
“Aah…, Sayanggg…, ooh…, teruus…, Saaayyyy”. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan kontolku keluar masuk memeknya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget,
“Buuu…, kenapa? apa ibu capeeek?”, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap,
“Coba hentikan gerakanmu itu sebentar”.

“Ada apa Buuu”, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.
“Sayanggg…, kamu diam saja dan coba rasakan ini”, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa kontolku seperti tersedot dan terhisap di dalam memek ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan,
“Buuu…, aduuuh…, enaak…, Buu…, teruus Bu, oooh…, nikmat Buu”, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan kontolku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.
“oooh…, aah…, ssssshh…, enaak Sayanggg”, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.

Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut kontolku dari dalam memeknya yang menyebabkan ibu mertuaku protes,
“Kenapa…, Nakk…, kok berhenti?”, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.

Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali kontolku masuk ke dalam memek ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang kontolku sudak masuk semua ke dalam memeknya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil,
“Saaayang…, aduuuh…, punyamu masuk dalam sekali…, naak…, aduuuh…, teruuus sayaang…, aah”, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk kontolku dengan kuat. Setiap kali kontolku kutekan dengan kuat ke dalam memek ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, “Ooohh…, aahh…, Suuur…, enaak…, terus, tekan yang kuaat sayaang”.

Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut kontolku dari dalam memeknya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu,
“Buuu…, coba ibu tengkurap dan nungging”, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging,
“Aduuhhh…, kamu kok macem-macem sih”, komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba kontolku kutusukkan langsung masuk ke dalam memek ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak,
“Aduuuh…, oooh”, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok kontolku keluar masuk memeknya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak,
“Oooh…, oooh…, Ssshhh”, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi,
“Sssshhhh…, Ibu capek Naak…, sudaah Suuur…, Ibuu capeeek”, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau kontolku jadi keluar dari memeknya.

Mertua Bohay Telanjang Toket Gede

Mertua Bohay Telanjang Toket Gede

Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan kontolku dengan mudah ke dalam memek ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga toketnya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat,
“Jangaan…, kuat-kuat Naak…, badan ibu sakit semua”, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.

Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan kontolku keluar masuk memeknya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan,
“Maaf…, Buu…, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan”, segera saja ibu berucap,
“Nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo…, mainkan lagi kontolmu agar ibu cepat puaas”.

“Iyaa…, Buuu…, saya akan coba lagi”, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga kontolku keluar masuk memek ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di memeknya, sehingga kadang-kadang terasa kontolku terasa tertahan sewaktu memasuki liang memeknya.

Ketika salah satu toket ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu,
“ooohh…, aahh…, Sssshhh…, teruuus…, oooh”, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya kontolku di dalam memeknya.

Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata,
“Nakkkk…, aduuuh…, Ibuuu…, sudaah…, oooh…, mauuu kelluaar”. Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan kontolku keluar masuk memeknya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya,
“Bagaimana…, Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, “Buu…, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?”, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar kontolku bisa keluar dari memek ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, “Jangaa…, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu…, yaa…, sayaang”, terus kembali menutup matanya.

Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut kontolku dari dalam memek ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan,
“Tidaak…, Buuu…, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini”, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba kontolku yang sejak tadi kudiamkan di dalam memeknya terasa seperti dijepit dan tersedot memek ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh,
“Aduuuh…, oooh…, Buuu”.

“Kenapa…, sayaang…, enaak yaa?”, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, “Buuu…, enaak sekaliii”, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot kontolku dengan memeknya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi kontolku keluar masuk memeknya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, “oooh…, aahhh…, teruuus…, naak…, aduuuh…, enaak sekali”.

Mertua Toket Montok

Mertua Toket Montok

Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan kontolku keluar masuk memeknya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar,
“Buuu…, sebentar lagi…, sayaa…, sudaah…, mau keluaar”, sambil kupercepat kontolku keluar masuk memeknya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata,
“Teruuss…, teruuuss…, Naak…, Ibuuu…, jugaa…, sudah dekat, ooohh…, ayooo Sayangggg…, semprooot Ibuu dengan manimu…, sekaraang”.

“Iyaa…, Buuu…, tahaan”, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan kontolku dalam-dalam ke memek ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa memek ibu memijat kontolku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut kontolku dari dalam memek ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.

“Buuu…, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Ayah..?”, tanyaku.
“Mungkin saja Nakk…, kenapa?”, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.
“Buuu…, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Ayah, kasihan dia”, ibu hanya diam dan seperti berfikir.
Setelah diam sebentar lalu kukatakan,
“Buuu…, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu dating ke rumah kami. – T A M A T –

ngentot ibu mertua, mertua jablay, ngewe ibu mertua, cerita ngentot setengah baya, cerita sex bergambar, Cerita sex sedarah, binor jablay, mertua binal.

cerita sex setengah baya lainnya:
Cerita Ngentot Janda Binal Sampai Anal
Cerita Ngentot Hadiah Ulang Tahun Dari Mama
Cerita Ngentot Tante Mirna Pemilik Salon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!